Selasa, 01 Oktober 2019

SEJARAH ILMU DAKWAH
 
Oleh
Devi Yolanda Oktavia (B94219073)
Faisal Amir Muharom (B94219074)
Fakhri Ali Fatoni (B94219075)
Kelas D3
Dosen Pengampu
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I
Ati` Nursyafa`ah M.Kom.I
Asisten Dosen II
Baiti Rahmawati S.Sos

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, dengan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Shalawat serta salam tak lupa juga kami haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Karena beliaulah kita dapat merasakan nikmatnya iman.
Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Ilmu Dakwah. Kami berterima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku pengampu mata kuliah Ilmu Dakwah yang membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Tidak lupa kami berterimakasih kepada teman-teman yang telah membantu memberikan masukan dan kritikan sehingga tersusunlah makalah ini.
Makalah ini berisi pembahasan tentang Sejarah Ilmu Dakwah. Kami menyadari terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini, maka dari itu kami meminta kritik dan sarannya kepada pembaca demi tercapainya makalah yang sempurna. Besar harapan kami juga semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Surabaya, 22 Agustus 2019
Penyusun




BAB I

PEMBAHASAN

A. Ilmu Balaghoh : Embrio Imu Dakwah

Sejarah: Uraian sistematis retorika yang pertama diletakkan oleh penduduk syracuse, suatu koloni Yunani di Pulau Sicillia. Mereka menggunakan retorika untuk meyakinkan dewan juri di pengadilan hingga dapat memenangkan perkaranya.

Pengertian: Ilmu Balaghah dikembangkan oleh ulama kontemporer (Al Muta-akhirin). Kata balagha berarti sampai. Kata ini sering digunakan Al Quran terkait dengan dakwah. Dengan demikian, ilmu balaghah adalah ilmu tentang tablig, yakni bagaimana pendakwah menyampaikan ajaran Islam yang mudah dipahami mitra dakwah.

     Macam-macam ilmu balaghah: Ilmu balaghah memuat tiga disiplin ilmu, yakni ilmu al-Ma'ani (ilmu tentang cara memberikan pemahaman),ilmu al Bayan(ilmu tentang memberikan penjelasan),dan ilmu al-Badi'(ilmu tentang cara memberikan keindahan bahasa). Ilmu al-Ma'ani, adalah ilmu tentang dasar-dasar atau kaidah-kaidah untuk memahami pembicaraan bahasa arab yang sesuai dengan suatu kondisi. Dengan kata lain, ilmu al-Ma'ani adalah ilmu yang mengajarkan cara menyampaikan pesan yang mudah dipahami. Arah pembicaraan yang sesuai dengan keadaan merupakan objek ilmu al-Ma'ani. Ilmu ini dapat digunakan untuk mengetahui mukjizat Al-Qur'an serta menggali rahasia ungkalan yang fasih (jelas kata-katanya) dan baligh (jelas kata dan maknanya). Selain itu, tujuan ilmu al-Ma’ani adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan yang dikehendaki penutur yang disampaikan kepada lawan tutur.  
Pencipta ilmu ini adalah Syekh 'Abd al-Qahir al-Jurjani. Beberapa ulamayang mengembangkan ilmu al-Ma'ani antara lain: al-Jahizh, Ibnu Qutaibah, dan al Mubarrid.

     Jika kita membandingkan antara ilmu al-Ma'ani dan ilmu komunikasi, keduanya memiliki sisi kesamaan dan perbedaan. Keduanya bertujuan mencapai komunikasi yang efektif. Hanya saja, ilmu al-Ma'ani ditekankan melakui pengelolaan bahasa, ilmu komunikasi dengan media. Keduanya juga menyesuaikan kondisi pembicaraan, tetapi ilmu al-Ma'ani menyesuaikan pesan dengan penerimanya, sedangkan ilmu komunikasi menyesuaikan dengan komunikator dengan komunikan.

     Agar pesan utama dakwah tidak menyimpang dari topik dan tujuannya, kita perlu mempelajari ilmu al-Bayan. Ilmu ini menawarkan varian metode untuk menguraikan satu kalimat pokok dengan beberapa kalimat penjelas yang relevan. Kalau pendakwah menulis satu paragraf dengan benar, ia telah menerapkan ilmu al-Bayan. Dengan penguasaan ilmu ini, seorang pendakwah dapat menguraikan hadits dalam satu jam dengan ceramah yang terfokus dan terbobot. Pencipta ilmu al-Bayan adalah Abu Ubaidah, murid Imam al-Khalil bin Ahmad.

     Ilmu al-Bayan hampir sama dengan ilmu retorika. Keduanya mengembangkan suatu topik. Dalam retorika, teknik pengembangan bahasan dapat dikelompokkan menjadi enam macam, yaitu: penjelasan, contoh, analogi, testimoni,dll. Dalam ilmu al-Bayan, secara garis besar ada tiga cara untuk mengembangkan kalimat,yaitu al-Tasybih(metafora), al-Majaz(sindirin),dan al-Kinayah(kiasan).

     Dalam ilmu balaghah, pemahaman dan penjelasan saja tidak cukup, tetapi perlu keindahan kalimat. Untuk menyusun keindahan kalimat, ilmu al-Badi' dapat dipelajari. Tingginya nilai suatu sastra dapat dilihat dengan instrument ilmu al-Badi'. Ilmu ini menawarkan beberapa metode untuk membuat keindahan kalimat, ungkapan, maupun pernyataan dari sudut kata-kata (al-lafzhiyyah) dan maknanya (al-mana'wiyyah). Peletak dasar ilmu al-Badi' adalah 'Abdullah bin al Mu'taz al-Abassi.

     Dari ketiga cabang ilmu balaghah tersebut, ilmu balaghah lebih dari sekedar ilmu komunikasi dan retorika, tetapi juga sebagai kajian sastra bahasa. Selama ini kajian ilmu balaghah sebagai sastra bahasa lebih berkembang dari model kajian ilmu komunikasi. Itu pun selalu berkutat pada syair dan ungkapan bahasa arab, terutama meneliti keindahan bahasa ayat-ayat Al-Qur'an. Padahal, teori-teori yang dikembangkan dalam ilmu balaghah tidak jauh berbeda dengan teori-teori ilmu komunikasi, terutama retorika. Teori-teori ilmu balaghah juga bisa digunakan untuk pernyataan yang bukan bahasa arab. Para ulama yang mempelajari ilmu balaghah tidak hanya mengetahui keindahan sastra dalam Al-Qur'an, namun juga dapat menjadi pendakwah yang mengesankan. Oleh karena itu, ilmu balaghah dapat dinyatakan sebagai embrio dari ilmu dakwah. Dalam lingkup kajian yang pertama terdapat satu akar epistemologis yaitu disiplin ilmu hadits.

B. . Dinamika Wacana Dakwah
Dakwah telah lama menjadi wacana lama yang tidak akan pernah berhenti sepanjang masa, ada dua hal yang menjadikan dakwah sebagai wacana yang tidak akan ada habis nya sampai akhir hayat.
  Alasan pertama adalah dakwah melahirkan manusia yang mengubah situasi sosial menjadi lebih baik. Ini dapat dijelaskan dengan teori manusia besar (big man theory).
Ada tiga asumsi dari teori ini (Piotr Sztompka, 2005: 310-113) :
1. Hanya manusia besar yang mengubah sejarah (determinisme heroik)
2. Sejarahlah yang memunculkan manusia besar(determinisme sosial)
3. Kapabilitas manusia besar dengan dukungan massa yang dapat mengubah sejarah(evolusioner-adaptif).

  Asumsi terakhir ini yang relevan dengan munculnya pendakwah yang muncul pada situasi yang tepat .
  Alasan kedua adalah dakwah merupakan perintah Allah SWT yang termaktub dalam kitab kitab agama samawi.
  Secara garis besar tahap tahap perkembanganilmu dakwah terbagi menjadi tiga tahap
Pertama , tahap konvensional
Pada tahap ini dakwah masih masih merupakan kegiatan keagamaan berupa seruan atau ajakan untuk menganut dan mengamalakan ajaran Islam yang dilakukan secara konvensional yang artinya dalam pelaksanaan, dakwah belum berdasar kepada metode metode ilmiah, tetapi berdasarkan pengalaman orang per orang.
Kedua, tahap sistematis
Pada tahap ini, ditandai dengan adanya perhatian masyarakat yang lebih luas terhadap permasalahan dakwah islam. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya penyelenggaraan seminar, diskusi, sarasehan, dll.
Gejala-gejala proses keilmuan dakwah mulai terlihat dalam tahap ini, sehingga tahap ini sangat menentukan tahap selanjutnya

Ketiga, tahap ilmiah
Pada tahap ini, dakwah telah berhasil tersusun sebagai ilmu pengetahuan dan telah berhasil tersusun sebagai ilmu pengetahuan dan telah memenuhi beberapa persyaratan pokoknya, yaitu objektif, metodik, universal, dan sistematis. Ini adalah berkat jasa para ulama dan para sarjana muslim yang telah mengkaji secara serius, baik dalam penelitian lapangan (field research) maupun penelitian kepustakaan (library research).
Dari tahapan yang sudah dijelaskan diatas kita harus bisa membedakan pemikiran dakwah sebagai ilmu.dan dakwah sebagai kegiatan mendiskusikan pesan pesan dakwah.
Dalam penelusuran kitab kitab fiqih , para ahli fiqih menekankan dakwah struktural yang dibebankan pada tugas negara (al-fiqh al-siyasi)
Kitab nahj al-balaghah (metode penyampaian pesan) berisi mengenai pesan pesan Ali bin Abi Thalib. Nashihah al-Muluk(nasihat untuk para penguasa) merupakan kitab yang ditulis oleh Al Mawardi(w.450 H). Al Ghazali (w. 505 H) ternyata juga menulis kitab kitab yang berjudul
Nashihah al-Muluk(nasihat untuk para penguasa dan al- muntahal fi `ilm al-Jadal(peniruan tentang ilmu debat)
Nama nama ulama ulama yang berjasa menulis kitab tentang dakwah dizaman keemasan antara lain :
1. Abu Yahya `Abd al-Rahim (946-948M) beliau menjelaskan banyak hal tentang dakwah dalam kitab nya kemudian diterbitkan dan diberi penjelasan oleh orang lain
2. `Abd al-Mahmud Zamakhsyari (1075-1144 M) yang terkenal dengan kitab nya , Athwaq al-Zanab fi al-mawa`izh wa al-Da`wah (kemampuan besar tentang nasihat dan dakwah)
3. Ma`man al-Alusi, penulis kitab Ghaliyah al-Mawa`izh(nasihat yang berharga)
4. Syekh syu`aib hurayfisy yang menulis kitab al-Raudl al-Faiq fi al-Mawaizh wa al-Raqa`iq (Latihan unggulan mengenai nasihat dan kasih sayang) 
Pengaruh pemikiran dakwah dengan pendekatan teologis-filosofis tumbuh dan berkembang di perguruan tinggi islam, khususnya universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Pendekatan ini telah menjadi perdebatan akademik di beberapa kampus. Sementara itu, kitab kitab dakwah dengan sufistik ditelaah di pesantren-pesantren maupun sekolah islam. Pendekatan ini telah diterima masyarakat muslim secara luas.
Dakwah dinamis terdiri dari dua kata yaitu dakwah dan dinamis. Menurut Asep Muhidin (2002:19). Dakwah adalah upaya kegiatan mengajak atau menyeru umat manusia agar berada di jalan Allah (sistem Islami) yang sesuai dengan fitrah dan kehanifannya secara integral, baik melalui kegiatan lisan dan tulisan atau kegiatan nalar dan perbuatan, sebagai upaya pengejawantahan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran spiritual yang universal sesuai dengan dasar Islam.
 
Dakwah juga dapat dimaknai sebagai proses transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam dari seorang atau sekelompok da’i kepada mad’u dengan tujuan orang yang menerima transformasi ajaran dan nilai-nilai Islam itu terjadi pencerahan iman dan juga perbaikan sikap serta prilaku yang Islami.
Perbedaan wacana dakwah lama dan wacana baru adalah jika wacana lama bersifat tradisionalis maka wacana baru bersifat post tradisional atau bisa dikatakan lebih modern.


C. Perkembangan Dakwah Sebagai Ilmu

Dalam perkembangan masyarakat dakwah yaitu menggarami  kehidupan manusia dengan nilai-nilai Islam, Iman, dan Takwa demi kebahagiaan kedepannya agar lebih baik menuju ke jalan Allah. Selama itu pula umat islam berkewajiban untuk  menyampaikan pesan risalah kenabian dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun coraknya. Maksut dari risalah kenabian tersebut yaitu tulisan formal yang membahas topik tertentu dengan menggunakan metode dan prinsip tertentu secara sistematis, hati-hati, dan teliti. Isi pesan itu pada hakikatnya merupakan tuntutan abadi nurani manusia sepanjang zaman. Terdapat dalam Al-Qur’an surat (fushilat:33),” bahwa ucapan yang terbaik adalah ucapan orang yang menyeruh kepada allah, beramal saleh, dan memproklamasikan dirinya sebagai orang yang berserah diri sebagai salah serorang anggota dari komunitas muslim”. Maksut dari komunitas Muslim tersebut yaitu suatu komunitas yang ditegakkan berdasarkan moral-moral Islam, Iman, dan Takwa yang dipahami secara padu, utuh, dan benar. Komunitas yang tidak eksklusif karena berfungsi sebagai teladan di tengah-tengah arus kehidupan yang penuh problematika., tantangan dan pilihan-pilihan yang yang terkadang rumit. Dengan ketajaman iman dan kecerdasan kita dapat menetapkan pilihan yang tepat dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan membirikan arah moral menuju ke perubahan yang lebih baik.        
Melihat secara kritis persoalan dakwah dalam kaitannya dengan kecenderungan masyarakat Indonesia akhir abad ini. Pertama, terlihat dalam hubungan internal umat Islam. Kedua, berhadapan dengan gejala sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan Negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan (sekulerisme), paham filsafat yang menyatakn bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi (materialisme), sebuah pamdangan folosofi yang tidak mempercayai adanya Tuhan (ateisme). Ketiga, masih berkaitan erat dengan yang pertama, mengenai persaudaraan Islam (ukhuwah).

Perkembangan Dakwah Islam Sunan Kalijaga

a. Sasaran Dakwah Islam Sunan Kalijaga.
Sasaran dakwah Sunan Kalijaga adalah masyarakat luas, khususnya daerah Jawa. Kondisi masyarakat Jawa pada umumnya memiliki pola dan filsafat hidup yang berbeda dengan beberapa masyarakat di daerah lain. Hal inilah yang melatarbelakangi model dakwah Sunan Kalijaga. Falsafah dalam hal ini memiliki arti tentang kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Arti harfiahnya adalah seorang pecinta kebijaksaan/ilmu.  

Falsafah ini diyakini dan dipegang erat serta diwariskan secara turun temurun kepada generasi penerusnya. Secara garis besar, falsafah hidup orang Jawa memiliki tiga landasan utama. Yang pertama, berlandaskan pada kesadaran akan ketuhanan, percaya dengan adanya tuhan bahwa tuhan hanyalah satu Allah SWT semata. Kedua, berlandaskan pada kealamsemestaan dan segala isinya. Ketiga, falsafah yang berlandaskan pada kesadaran manusia, pengenalan terhadap diri sendiri merupakan syarat utama untuk mencapai hidup yang otentik (dapat dipercaya).

Disamping itu, dalam falsafah hidup orang jawa terdapat sebuah ajaran mengenai keutamaan hidup. Secara umum maksut dari tulisan di atas, bahwa secara alami manusia memiliki kemampuan dalam membedakan mana yang baik dan mana itu perbuatan yang buruk.

Meskipun demikian, manusia terkadang masih lalai dan mengabaikan kemampuannya, sehingga mereka terjebak dalam perbuatan yang tidak pantas melenceng jauh dari ajaran agama. Oleh karena itu, diperlukan upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan tersebut, mengajari manusia agar memilih perbuatan yang benar dan menjauhi perilaku yang salah agar tidak melenceng dari jalan Allah SWT.



Salah satu ajaran paling populer adalah “ajaran mikul duwur mendem jero (menjunjung tinggi derajat dan harkat martabat orang tua). Orang jawa dengan kecerdasannya mampu menciptakan primbon dengan menggunakan istilah-istilah lokal yang unik”     
   
Terdapat banyak sekali primbon yang dipakai dan diyakini oleh beberapa kalangan masyarakat.
Hal ini tentu saja merupakan kelebihan tersendiri bagi orang jawa, karena secara tidak langsung hal ini menunjukkan tingkat kecerdasan tersendiri. Sebuah kitab primbon Jawa seri Batal Jemur yang terdiri dari 9 jilid, misalnya, merupakan kitab karya adiluhung dan merupakan kitab masterpiecenya (pencapaian besar) orang Jawa. Di dalamnya dijelaskan tentang sifat-sifat wanita berdasarkan ciri fisik dan tanggal kelahirannya. Kitab ini masih digunakan oleh sebagian orang pada saat mereka hendak meminang seorang istri.
Dalam menjalankan tugasnya menyebarkan agama Islam, cara yang ditempuh oleh Sunan Kalijaga berbeda dengan beberapa para wali lainnya. Beberapa wali menyebarkan agama islam dengan cara membangun pondok, musholah atupun pedepokan, maka tidak demikian dengan Sunan Kalijaga beliau merantau dari satu tempat ke tempat lain. Beliau menemui masyarakat umum dan menyampaikan ajaran Islam disetiap beliau singgah melalui metode dakwah.

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga menerapkan prinsip “menjemput bola” daripada menunggu. Maksutnya, Sunan Kalijaga memilih mendatangi masyarakat secara langsung dan berdakwah kepada mereka.
b. Pengaruh Dakwah Islam Sunan Kalijaga
Pendekatan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga  dalam dakwahnya dengan menggunakan sikap ramah dan santun terhadap budaya setempat, menjadikan dakwahnya begitu mudah diterima oleh masyarakat. Pendekatan-pendekatan yang memperhatikan aspek budaya ini sangat penting, mengingat masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang kaya akan budaya. Sunan Kalijaga membiarkan budaya masyarakat lokal, asalkan itu tidak menyimpang dari ajaran agama Islam.
Dengan modal seperti itu, maka tidak heran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam lewat seruan-seruan dakwahnya dapat mempengaruhi masyarakat bawah, bahkan pejabat-pejabat penting pada waktu itu.
Diterimanya dakwah Sunan Kalijaga, menunjukkan bahwa sikap ramah dan santun yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam menjalankan dakwahnya lebih efektif dibanding cara-cara yang frontal. Hal ini semakin menegaskan, bahwa tersebarnya Islam di bumi Nusantara lebih mengedepankan cara-cara yang ramah dan santun, sehingga Islam benar-benar menjadi Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi semesta).  






Tasawuf Sosial
Membangun Dakwah Bil Hal

Kiai Sahal ulama besar yang lahir,tumbuh , dan wafat di Kajen Mergoyoso. Beliau sosok yang sangat fenomenal. Menurut Kiai Sahal, dakwah tidak hanya retoris (sindiran). Dakwah yang sesungguhnya adalah dakwah yang menagajak masayarakat ke jalan yang benar dengan cara yang efektif. Dakwah efektif dengan melakukan perubahan ke arah yang positif. Disebut dakwah bil hal, yaitu dakwah dengan melibatkan seluruh kelompok masyarakat dalam mengorganisir potensi untuk melakukan program-program visioner dibidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Keteladanan menjadi faktor kunci dakwah bil hal.


BAB II

PENUTUP


Ilmu balaghah adalah ilmu tentang tabligh, yaitu bagaimana pendakwah menyampaikan ajaran islam yang mudah dipahami oleh mitra dakwah. Ilmu balaghah terbagi menjadi 3 macam yaitu : Al-Ma'ani, Ilmu Al-Bayan,dan Ilmu Al-Badi’.
Wacana dakwah sebagai salah satu wadah untuk berdakwah di kalangan masyarakat untuk membantu masyarakat lebih mengenal ajaran islam, wacana dakwah juga bisa menjadi wadah dalam mendiskusikan masalah masalah agama.
Dakwah saat ini berbeda dengan dakwah yang dilakukan oleh sunan kali jaga dahulu, dakwah kali ini bisa menggunakan media sosial, jurnal, dan alat elektronik lainya, tetapi dakwah yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga masih bisa diteladani untuk mengajak atau menyeruakan ajakan untuk mempelajari ilmu agama lebih baik lagi.





DAFTAR PUSAKA
Abdul Basit, Dr. Filsafat Dakwah. 2013
Alhidayatillah, Nur. 2017. Dinamika Dakwah di  Masyarakat. https://uin-suska.ac.id/2017/09/04/dinamika-dakwah-di-masyarakat/ (di akses  22 agustus 2019)
Anwar, Rusidi.Kesaktian dan Tarekat Sunan Kali Jaga.. Jakarta : PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. 2019.
Asmani, Jamal Ma’mur. Tasawuf Sosial Kh. Ma. Sahal Mahfudh. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. 2019.
Asry, Nahdatunnisa. 2019. Model Gerakan Dakwah di Indonesia. Bone  
Awaluddin, Fajar A. 2019.  Ilmu Balaghah Sebagai Embrio dalam Dunia Dakwah
Aziz, Moh Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana. 2004.
Basit, Abdul. 2013. Dakwah Cerdas di Era Modern.
Fakultas ilmu dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dakwah dan Perubahan Masyarakat. Jurnal Ilmu Dakwah. Vol 12 No 2. 2005.
Hasanah, Hasyim. 2016. Arah Pengembangan Dakwah Melalui Sistem Komunikasi Islam.
http://jki.uinsby.ac.id/index.php/jki/article/view/15
http://www.ukm.my/sari/images/stories/SariOnline?SARI_292_2011_-_004.pdf 
Maarif, Ahmad Syafii. Islam Dan Politik. Yogyakarta: IRCiSoD. 2018.
Mohammad, Halim Abdul. 2011. Unsur-unsur Ilmu Badi’ Arab
Nurbayan, Yayan. 2010. Pengembangan Materi Ajar Balaghah.
Riyadi, Agus. 2014. Tarekat Sebagai Organisasi Tasawuf.
Syahputra, Iswandi. Komunikasi Profetik. Bandung: Reffika Offset